Akhirnya… Dialah Pelabuhan Terakhir Ku… Dialah Imam Ku…. Dialah Masa Depan Ku

Bekasi, 3 Juli 2012/ 15.25 WIB Bismillahirrohmanirrohim…. Alhamdulillah adalah kata pertama yang saya ucapkan…. Karna berkah dari Sang Penciptalah semuanya berjalan dengan lancar…. Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan cerita bahagia saya, dimana ini semua adalah awal kehidupan baru saya… Pertama… Alhamdulillah Puji Syukur… Saya telah menyeleaikan pendidikan S1 Keperawatan saya pada tanggal 11 Maret 2014 dan tinggal menunggu wisuda di tanggal 6 Oktober 2014, berkat do’a orangtua, adik, suami ku, om dan tante ku, serta saudara ku yang lain saya bisa menyelesaikan kuliah saya tepat waktu. Dan sesuai janji saya saya berusaha untuk memberikan nilai terbaik… alhamdulillah IPK 3,33 lah yang saya peroleh… perjuangan yang ditempuh bukanlah perjuangan yang mudah, saya harus melalui hari-hari yang dibilang cukup melelahkan, karena saat itu saya juga harus bekerja dan kerja saya adalah “SHIFT”. Beruntung saya mempunyai seorang atasan yang cukup bijaksana karena dia mengizinkan saya untuk kerja hanya 2 shift yaitu dinas pagi dan malam…. Mungkin semua orang tua pasti merasa sedih jika melihat anaknya kelelahan…. saya sering tidak pulang kerumah karena jadwal kerja dan jadwal kuliah terlalu mepet, sampai-sampai orang rumah suka kangen dan selalu bertanya “ kapan pulangnya mbak?”…. saya hanya menghabiskan waktu 7 jam dirumah ika saya dinas pagi, itupun hanyak untuk tidur, lalu pagi-pagi saya sudah berangkat kerja kembali. Jika dinas malam datang, sore saya kuliah mlm saya kerja, paginya tidur di rumah sakit sampai menunggu jam berangkat kuliah dan lusanya baru pulang, itu yang saya lakukan setiap hari selama kuliah… tapi insya Allah hasil yang diperoleh tidak akan mengecewakan jika kita sungguh-sungguh melakukannya…. semuanya tidak luput dari dukungan orang tua dan calon suami ku pada saat itu (Sofian Aryef, AM.d P) yang selalu memberikan dukungannya selama saya kuliah…. dia yang selalu menjadi motivasi saya untuk cepat lulus. Saya mau memberikan yang terbaik untuknya dan alasan yang lainnya karena setelah saya selesai sidang kami akan melangsungkan pernikahan…. makanya dialah motivasi terbesar saya, setiap kertas ujian saya selalu muncul wajahnya hehehehe…… sangking saya termotivasi…… Kedua, setelah saya selesai sidang skripsi bulan demi bulan berlalu… fikiran saya waktu itu nggak karuan karna banyak yang harus difikirkan, antara kuliah yg sedang repot-repotnya skripsi dan menyiapkan untuk kelangsungan resepsi pernikahan kami pada saat itu… tapi semuanya alhamdulillah berjalan lancar….. walaupun sudah dekat waktunya masih sempat-sempatnya kami bertengkar karna beda pendapat soal tamu undangan…. karna ternyata tamu yg terdapat di daftar list undangan melebihi target undangan, jadi yang gag penting mau tidak mau harus dicoret. Tapi alhamdulillah semuanya bisa diatasi…. Dan pada tanggal 18 Mei 2014 pukul 08.00 WIB berlangsunglah akad nikah kami….. semua rasa jadi satu, sedih, cemas, bahagia semuannya tidak dapat diungkapkan satu persatu. Laki-laki yang selama saya kenal, dekat dengan saya yg perkenalan dimulai pada November 2011 akhirnya SAH menjadi imam saya…. semuanya berjalan tanpa kita ketahui bahwa ternyata dialah laiki-laki yang menjadi jodoh saya yang diberikan oleh Allah, Subhanallah,,, tiada yang mengetahui rahasia dan kebesaran Allah. Sebelum saya dipertemukan dan membatalkan wudhu saya sempat meminta izin pada orang tua saya…. rasa haru dan air mata saya menetes tanpa disadari, bukan hanya saya tapi hadirin yang ada ditempat itupun terharu…. Bismillahirohmani rohim Assalam mualaikum wr, wb Papa dan Mama yang “Dee” hormati , Ma.. Pa..“Dee” mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga, atas kasih sayang , perlindungan dan perhatian yang telah diberikan sejak “Dee” kecil hingga dewasa. “Dee” mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Papa dan Mama karena “Dee” belum bisa membalas semua jasa dan kasih sayang Papa dan Mama selama ini berikan. kepada adik ku tersayang dan saudara-saudara yang “Dee” cintai dan sayangi , “Dee” mengucapkan banyak terima kasih untuk semua perhatian dan dukungan kepada Dee” selama ini, “Dee” mohon maaf apabila “Dee” selama ini sudah menyusahkan semuanya. dengan menutup sepuluh jari tangan “Dee” menghaturkan sembah dan sujud kepada Papa dan Mama untuk diberikan ijin dan doa restu kepada “Dee” untuk menikah hari ini dengan laki-laki pilihan “Dee” yaitu Sofian Aryef. doa restu dari Papa dan Mama sangat “Dee” harapkan agar lancar di kehidupan “Dee” dan keluarga dimasa yang akan datang kelak. akhir kata “Dee” mengucapkan wassalam mualaikum wr wb. Kalimat tersebut yang membuat haru…. sampai-sampai tantee saya marah sama saya karena dia ikut-ikutan nangis….. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, suami pun lancar dalam mengucapkan ijab kabul sampai akhirnya kata SAH terucap…… Terimakasih Ya Allah kau telah berikan kepada ku seorang laki-laki pilihan Mu yang nantinya akan selalu membimbingku, menjadikan aku umat Mu yang sealu berada dalam ajaran agama Mu, menjadi pemimpin dalam keluarga ku kelak. Semoga pernikahan kami bisa menjadi pernikahan yang Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah… Aminnn… Bekasi, 18 Mei 2014/ 08.00 s/d 14.00 Gedung Aneka Bakthi II Kementrian Sosial RI Bekasi Timur Widanti Virgian, S, Kep & Sofian Aryef, AM.d P

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MIOCARDITIS

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Myocarditis adalah peradangan pada otot jantung atau miokardium. Pada umumnya disebabkan oleh penyakit-penyakit infeksi, tetapi dapat sebagai akibat reaksi alergi terhadap obat-obatan dan efek toxin bahan-bahan kimia dan radiasi 

Terdapat perubahan epidemiologi endokarditis infektif pada saat sekarang yang disebabkan tingkat kesehatan umum yang baik, tingkat kesehatan gigi yang baik, pengobatan yang lebih dini dan penggunaan antibiotic. Insidens endokarditis 10-60 kasus per 1.000.000 penduduk per tahun diseluruh dunia dan cenderung meningkat pada usia lanjut.

Penyakit ini perlu penanganan dan pengobatan yang tepat dan sesegera mungkin karena apabila tidak disegerkan akan mengakibatkan dampak yang fatal.

 

B. Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang akan di bahas dalam makalah ini adalah

1. Pengertian dari Miokarditis.

2. Bagaimana tanda dan gejala dari Miocarditis?        

3. Bagaimana patofisiologi secara umum dari Miocarditis?

4. Bagaimana manifestasi klinis dari Miocarditis?

5. Apa saja etiologi dari Miocarditis?

6. Apa saja klasifikasi dari Miocarditis ?

 

 

 

 

C. Tujuan Penulisan

1.Untuk mengetahui bagaimana mengatahui pengertian dari Miokarditis.

2.Untuk mengetahui bagaimana tanda dan gejala dari Miocarditis.

3.Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi secara umum dari Miocarditis.

4.Untuk mengetahui bagaimana manifestasi klinis dari Miocarditis.

5.Untuk mengetahui bagaimana apa saja etiologi dari Miocarditis.

6.Untuk mengetahui bagaimana apa saja klasifikasi dari Miocarditis.

7.Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan diagnostik Miocarditis.

8.Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan pada askep Miocariditis. 

 

D. Metode Penulisan

Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Miocarditis” ini adalah berdasarkan metode literature (pustaka) dan mengintisarikan buku-buku  pustaka dan informasi didapat dari jaringan internet.

 

E. Tujuan Penulis

Tujuan penelitian ini dibedakan menjadi dua yakni :

1.Tujuan umum

Tujuan penelitian ini secara umum adalah agar mahasiswa dapat memahami tentang Askep pada pasien Miokarditis sehingga mempermudah dalam mempelajari   patofisiologi dari Miocarditis.

 

 

 

 

2.Tujuan khusus

Tujuan penelitian ini secara khusus adalah Mahasiswa mampu memahami Anatomi dan Fisiologi pada Miocarditis.

                          

F. Sistematika Penulisan

Makalah ini disusun secara sistematik yang terdiri dari 3 Bab yaitu Bab I yang berisi tentang pendahuluan meliputi; Latar belakang, Tujuan penyusunan, metode penyusunan makalah dan Sistematika penyusunan. Bab II berisi Tinjauan teori yang meliputi; Konsep dasar pada pasien Miocarditis dan Konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien Miocarditis, kemudian Bab III berisi Penutup yang berisi kesimpulan dan saran, lalu yang terakhir daftar pustaka.

 

 

 

 

 

 

 

                                     

 

 

 

 

                                                                                                                           

BAB II

TINJAUAN TEORI

 

A. Pengertian Miocarditis

Miokarditis adalah peradangan atau  inflamasi pada miokardium.Peradangan ini dapat disebabkan oleh penyakit reumatik akut dan infeksi virus seperti cocksakie virus, difteri , campak, influenza , poliomielitis, dan berbagai macam bakteri, rikettsia, jamur, dan parasit ( Danu Santoso Halim,Dr.SpP ).

Miocarditis adalah peradangan dinding otot jantung yang disebabkan oleh infeksi atau penyebab lain sampai yang tidak diketahui (idiopatik) ( Darmojo; Martono, 1999 ).

Miokarditis adalah inflamasi fokal atau menyebar dari otot jantung (miokardium) (Doenges, 1999).

 

B. Tanda dan gejala 

Gejala Miokarditis yang sering ditemukan yaitu :

a. Takikardia :

Peningkatan suhu akibat infeksi menyebabkan frekuensi denyut nadi akan meningkat     lebih tinggi.

b. Bunyi jantung melemah, disebabkan penurunan kontraksi otot jantung.

    Katub-katub mitral dan trikuspidalis tidak dapat ditutup dengan keras.

c. Auskultasi: gallop, gangguan irama supraventrikular dan ventricular.

d. Gagal jantung: Dekompensasi jantung terutama mengenai jantung sebelah kanan.

 

C. Patofisiologi

Jantung merupakan organ otot. Bila serabut otot sehat, jantung dapat berfungsi dengan baik meskipun ada cedera katup yang berat; bila serabut otot rusak maka hidup dapat terancam.Miokarditis dapat menyebabkan dilatasi jantung, thrombus dalam dinding jantung, infiltrasi sel darah yang beredar disekitar pembuluh koroner dan diantara serabut otot dan degenerasi serabut otot itu sendiri.

Kerusakan miokard oleh kuman-kuman infeksius dapat melalui tiga mekanisme dasar :

1.  Invasi langsung ke miokard.

2.   Proses immunologis terhadap miokard.

3.   Mengeluarkan toksin yang merusak miokardium.

Proses miokarditis spiral ada 2 tahap : Fase akut berlangsung kira-kira satu minggu, dimana terjadi invasi virus ke miokard, replikasi virus dan lisis sel. Kemudian terbentuk neutralizing antibody dan virus akan dibersihkan atau dikurangi jumlahnya dengan bantuan magrofag dan natural killer cell atau sel NK. Pada fase berikutnya miokard diinfiltrasi oleh sel-sel radang dan system immune akan diaktifkan antara lain dengan terbentuknya antibody terhadap miokard, akibat perubahan permukaan sel yang terpajan oleh virus. Fase ini berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan dan diikuti kerusakan miokard dari yang minimal sampai yang berat (FKUI, 1999).

 

D. Etiologi

Penyebab dari peradangan pada Miokardium adalah :

a). Virus.

b). Jamur.

c). Bakteri.

d). Parasit.

e). Protozoa.

f). Spirsozeta.

   

 

E.  Manifestasi Klisnis

Manifestasi klinis dari Miokarditis adalah :

1.Tergantung pada  jenis infeksi dan derajat kerusakan    jantung

2. Rasa tidak nyaman di dada dan perut.

3. Bunyi jantung tambahan, gallop, dan bising sistolik.

4.Denyut nadi alternans  ( pergantian denyut lemah dan kuat  secara reguler ).

 

F. Klasifikasi

1. Acute isolated myocarditis adalah miokarditis interstitial acute dengan etiologi tidak                                        diketahui.               

    2. Bacterial myocarditis adalah miokarditis yang disebabkan oleh infeksi bakteri

3. Chronic myocarditis adalah penyakit radang miokardial kronik.

4. Diphtheritic myocarditis adalah mikarditis yang disebabkan oleh toksin bakteri yang    dihasilkan pada difteri : lesi primer bersifat degeneratiff dan nekrotik dengan respons radang sekunder.

5. Fibras myocarditis adalah fibrosis fokal/difus mikardial yang disebabkan oleh peradangan kronik.

6. Giant cell myocarditis adalah subtype miokarditis akut terisolasi yang ditandai dengan adanya sel raksasa multinukleus dan sel-sel radang lain, termasuk limfosit, sel plasma dan makrofag dan oleh dilatasi ventikel, trombi mural, dan daerah nekrosis yang tersebar luas.

7.  Hypersensitivity myocarditis adalah mikarditis yang disebabkan reaksi alergi yang disebabkan oleh hipersensitivitas terhadap berbagai obat, terutama sulfonamide, penicillin, dan metildopa.

8.  Infection myocarditis adalah disebabkan oleh agen infeksius ; termasuk bakteri, virus, riketsia, protozoa, spirochaeta, dan fungus. Agen tersebut dapat merusak miokardium melalui infeksi langsung, produksi toksin, atau perantara respons immunologis.

9.  Interstitial myocarditis adalah mikarditis yang mengenai jaringan ikat interstitial.

10. Parenchymatus myocarditis adalah miokarditis yang terutama mengenai substansi ototnya sendiri.

11.  Protozoa myocarditis adalah miokarditis yang disebabkan oleh protozoa terutama terjadi pada penyakit Chagas dan toxoplasmosis.

12. Rheumatic myocarditis adalah gejala sisa yang umum pada demam reumatik.

13.  Rckettsial myocarditis adalah mikarditis yang berhubungan dengan infeksi riketsia.

14. Toxic myocarditis adalah degenerasi dan necrosis fokal  serabut miokardium yang disebabkan oleh obat, bahan kimia, bahan fisik, seperti radiasi hewan/toksin serangga atau bahan/keadaan lain yang menyebabkan trauma pada miokardium.

15. Tuberculosis myocarditis adalah peradangan granulumatosa miokardium pada tuberkulosa.

16. Viral myocarditis disebabkan oleh infeksi virus terutama oleh enterovirus ; paling sering terjadi pada bayi, wanita hamil, dan pada pasien dengan tanggap immune rendah (Dorland, 2002).

 

G. Pemeriksaan Diagnostik

     a). Laboratorium

      Pemeriksaan laboratorium untuk menentukan etiologi. Biakan darah dapat menemukan sebagian besar organisme pathogen. Pada infeksi terdapat eosinofilia sebagai laju endapan meningkat. Enzim keratin kinase atau laktat dehidroginase

      (LDH) dapat meningkat sesuai luasnya nekrosis miokard.

     b). Elektrocardiograf

Muncul kelainan sinus takikardia, perubahan segmen ST dan gelembung T serta         low voltage. Kadang di temukan aritmia arial atau ventrikular, AV Blok, intraventikular conduction dan QT memanjang

 c). Foto thorak

Ukuran jantung sering membesar kadang disertai kongesti paru.

     d). Ekokardiograf

Pada kedua ventrikel sering didapat hipokinesis, bersifat regional terutama di apeks. Adanyapenebalan dinding Melalui biopsy tranvernous dapat diambil endomiokardium ventrikel kanan kiri. Hasil biopsy yang positif memiliki nilai diagnostic sedang negative tidak dapat menyingkirkan miokarditis. Diagnosis ditegakkan bila pada biopsy endomiokardial didapatkan nekrosis ventrikel, trombi

ventrikel kiri, pengisian diastolic yang abnormal dan efusi pericardial.

 e).  Radio Nuclide Scaning dan Magnetic Resonance Imaging. Di temukan perubahan               inflamasi dan kronis yang khas pada miokarditis.

 f).  Biopsy endomiokardial atau degenerasi parasit yang dikelilingi infiltrasi sel.

 

H.    Penatalaksanaan

Penanganan pada pasien dengan Miokarditis adalah:

a.  Pasien diberi pengobatan kusus terhadap penyebab yang mendasari (penisilin untuk    streptokokus hemolitikus)

b. Pasien dibaringkan ditempat tidur untuk mengurangi beban jantung. Berbaring juga membantu mengurangi kerusakan miokardial residual dan komplikasi miokarditis.

c. Fungsi jantung dan suhu tubuh harus selalu dievaluasi.

Bila terjadi gagal jantung kongestiv harus diberikan obat untuk memperlambat frekuensi jantung dan meningkatkan kekuatan kontraksi.

 

 I. Komplikasi

Komplikasi yang terjadi bila terkena Miokarditis adalah :

a).  Kardiomiopati

b). Payah jantung kongresif

c).  Efusi pericardial

d).  AV block total

e). Trobi kardiak

f). Gagal jantung

 

J. Asuhan Keperawatan Miokarditis :

1.  Pengkajian

Pengkajian adalah langkah awal dalam melakukan asuhan keperawatan :

a).Aktivitas / istirahat

Data Objektif :

- Kelelahan

- Kelemahan.

Data Subjektif :

- Takikardi

- Penurunan tekanan darah

                         – Dispnea dengan aktivitas

- Sirkulasi

Data Objektif :

                         – Riwayat demam rematik

                         – Penyakit jantung congenital

- Bedah jantung, palpitasi, jatuh pingsan.

Data Subjektif :

- Takikardia

- Disritmia,

- Perpindaha titik impuls maksimal,

- Kardiomegali,

- Frivtion rub,

- Murmur,

- Irama gallop (S3 dan S4),

- Edema,

- DVJ,

- Petekie,

- Hemoragi splinter,

- Nodus osler,

- Lesi Janeway

- Eleminasi

Data Objektif:

- Riwayat penyakit ginjal/gagal ginjal ;

- Penurunan frekuensi/jumlsh urine.

Data Subjektif :

- Urin pekat gelap.

- Nyeri/ketidaknyamanan

Data Objektif :

-  Nyeri pada dada anterior (sedang sampai berat/tajam diperberat oleh inspirasi, batuk , gerakkan menelan, berbaring

Data Subjektif :

- Perilaku distraksi, misalnya gelisah.

- Pernapasan

Data Objektif :

- Napas pendek ; napas pendek kronis memburuk pada malam

   hari (miokarditis).

Data Subjektif :

- Dispnea,

- DNP (dispnea nocturnal paroxismal) ;

- Batuk,

- Inspirasi mengi ;

- Takipnea,

- Krekels,

- Ronkhi ; pernapasan dangkal.

- Keamanan.

Data Objektif :

- Riwayat infeksi virus, bakteri, jamur (miokarditis

- Trauma dada ; penyakit keganasan/iradiasi thorakal ;   dalam penanganan gigi ;

- Pemeriksaan endoskopik terhadap sitem GI/GU),

- Penurunan system immune,

- SLE atau penyakit kolagen lain

Data Subjektif:

- Demam.

- Penyuluhan / Pembelajaran.

Data Objektif :

- Terapi intravena jangka panjang atau pengguana kateter indwelling atau penyalahgunaan  obat parenteral.

 

K. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan myocarditis (Doenges, 1999) adalah:

1. Nyeri berhubungan dengan inflamasi miokardium, efek-efek sistemik dari infeksi, iskemia jaringan.

Data Objektif  :

- Nyeri pada dada anterior (sedang sampai berat/tajam) diperberat oleh inspirasi, batuk, gerakkan menelan, berbaring.

    Data Subjetif :

   – Perilaku distraksi, misalnya gelisah.

 

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan inflamasi dan degenerasi sel-sel otot miokard, penurunan curah jantung.

    Data Objektif :

    – Kelelahan.

    – Kelemahan.

    Data Subjektif :

    – Takikardia.

    – Penurunan tekanan darah.

    –  Dispnea dengan aktivitas.

 

3. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan degenerasi otot  jantung, penurunan/kontriksi fungsi ventrikel.

    Data Objektif :

    – Rriwayat infeksi virus, bakteri, jamur (miokarditis ;

    – Trauma dada ; penyakit keganasan/iradiasi thorakal ;

    – Dalam penanganan gigi ;

    – Pemeriksaan endoskopik terhadap sitem GI/GU),

    – Penurunan system immune,

    – SLE atau penyakit kolagen lainnya.

    Data Subjektif :

    – Demam.

 

4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi rencana pengobatan berhubungan dengan kurang pengetahuan/daya ingat, mis- intepretasi informasi,

keterbatasan kognitif, menyangkal diagnosa.

    Data Objektif:

1. Terapi intravena jangka panjang atau pengguanaan kateter indwelling atau penyalahgunaan obat parenteral.

        Data Subjektif : Pasien terlihat tidak mengerti dengan penyakitnya.

 

 

 

 

L.  INTERVENSI

Intervensi yang muncul pada pasien dengan myocarditis (Doenges, 1999) adalah:

1. Nyeri berhubungan dengan inflamasi miokardium, efek-efek sistemik dari infeksi,                          iskemia jaringan.

Tujuan dan Kriteria Hasil:

     Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam, pasien tampak: Nyeri hilang    atau terkontrol:

- Nyeri berkurang atau hilang.

- Klien tampak tenang.

Data objektif :

- Kelelahan.

- Kelemahan.

Data Subjektif :

- Takikardia

- Penurunan  tekanan darah dispnea dengan aktivitas

Tujuan dan Kriteria Hasil :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam :

- Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.

- Perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.

- Pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktifitas tanpa koordinasi  otot, tulang, dan anggota gerak lainnya. 

    Rencana Tindakan :

- Kaji respon pasien terhadap aktivitas. Perhatikan adanya perubahan dan keluhan  kelemahan, keletiahan, dan dispnea berkenaan dengan aktivitas.

- Pantau frekuensi/irama jantung, TD, dan frekuensi pernapasan sebelum dan setelah   aktivitas dan selama diperlukan.

- Pertahankan tirah baring selama periode demam dan sesuai indikasi.

- Rencanakan perawatan dengan periode istirahat/tidur tanpa gangguan.

- Bantu pasien dalam program latihan progresif bertahap sesegera mungkin untuk turun dari tempat tidur, mencatat respons tanda vital dan toleransi pasien pada peningkatan aktivitas.

- Kolaborasi pemberian oksigen suplemen sesuai indikasi.

- Trauma dada ; penyakit keganasan/iradiasi thorakal

Rasional :

Miokarditis menyebabkan inflamasi dan kemungkinan kerusakan fungsi sel-sel miokardial.

 – Membantu menentukan derajat dekompensasi jantung dan pulmonal. Penurunan TD, takikardia, disritmia, dan takipnea adalah indikatif dari kerusakan toleransi jantung terhadap aktivitas.

- Meningkatkan resolusi inflamasi selama fase akut.

- Memberikan keseimbangan dalam kebutuhan dimana aktivitas bertumpu pada jantung.

 

3. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan degenerasi otot jantung, penurunan/kontriksi fungsi ventrikel.

Data Objektif :

- Riwayat infeksi virus, bakteri, jamur (miokarditis

- Trauma dada ; penyakit keganasan/iradiasi thorakal ;

dalam penanganan gigi pemeriksaan endoskopik terhadap sitem GI/GU),

- Penurunan system immune,

- SLE atau penyakit kolagen lainnya.

Data Subjektif :

- Demam.

Tujuan dan Kriteria Hasil :          

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam :

- Mengidentifikasi perilaku untuk menurunkan beban kerja jantung.

- Melaporkan/menunjukkan penurunan periode dispnea, angina, dan disritmia.

- Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil.

Rencana Tindakan :

 – Pantau frekuensi/irama jantung, TD, dan frekuensi pernapasan sebelum dan setelah  aktivitas dan selama diperlukan.

- Pertahankan tirah baring dalam posisi semi-Fowler.

- Auskultasi bunyi jantung. Perhatikan jarak/muffled tonus jantung, murmur, gallop S3 dan S4.

- Berikan tindakan kenyamanan misalnya ; perubahan posisi, gosokkan punggung, dan aktivitas hiburan dalam toleransi jantung.

Rasional :

- Membantu menentukan derajat dekompensasi jantung dan pulmonal.

- Penurunan tensi, takikardia, disritmia, dan takipnea adalah indikatif dari kerusakan toleransi jantung terhadap aktivitas.

- Menurunkan beban kerja jantung, memaksimalkan curah jantung.

   – Memberikan deteksi dini dari terjadinya komplikasi misalnya : GJK, tamponade jantung.

- Meningkatkan relaksasi dan mengarahkan kembali perhatian.

- Berikan tindakan kenyamanan misalnya ; perubahan posisi, gosokkan punggung, dan aktivitas hiburan dalam toleransi jantung.

 

4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, rencana pengobatan berhubungan dengan kurang pengetahuan/daya ingat, intepretasi informasi, keterbatasan kognitif, menyangkal diagnosa.

Data Objektif :

- Terapi intravena jangka panjang atau penggunaaan kateter indwelling atau penyalagunaan.

Data Subjektif : Pasien terlihat tidak mengerti dengan penyakitnya.

 

Tujuan dan Kriteria Hasil :         

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 30 menit :

- Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen pengobatan.

- Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu di perhatikan.  

- Memperlihatan perubahan perilaku untuk mencegah komplikasi.

Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat.  -Jelaskan efek inflamasi pada jantung, secara individual pada pasien.

Rencana tidakan :

- Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat.

- Jelaskan efek inflamasi pada jantung, secara individual pada pasien.

- Ajarkan untuk memperhatikan gejala sehubungan dengan komplikasi/berulangnya dan gejala yang dilaporkan dengan segera pada pemberi perawatan, contoh ; demam, peningkatan nyeri dada yang tak biasanya, peningkatan berat badan, peningkatan toleransi terhadap aktivitas.

- Anjurkan pasien/orang  terdekat tentang dosis dan efek samping obat kebutuhan diet pertimbangan khusus,aktifitasyang di ijinkan /dibatas.

Rasional :

- Tujuan dan efek samping obat kebutuhan diet pertimbangan khusus,aktifitasyang di ijinkan / dibatas., sesuai dengan tanda/gejala yang menunjukan kekambuhan/komplikasi.

- Informasi perlu untuk meningkatkan perawatan diri, peningkatan keterlibatan pada program terapeutik, mencegah komplikasi.

 

 

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

         

 

BAB III

KESIMPULAN

 

A. Kesimpulan

Miokarditis adalah peradangan atau  inflamasi pada miokardium.Peradangan ini dapat disebabkan oleh penyakit reumatik akut dan infeksi virus seperti cocksakie virus, difteri , campak, influenza , poliomielitis, dan berbagai macam bakteri, rikettsia, jamur, dan parasit Miokarditis dapat menyebabkan dilatasi jantung, thrombus dalam dinding jantung, infiltrasi sel darah yang beredar disekitar pembuluh koroner dan diantara serabut otot dan degenerasi serabut otot itu sendiri. Kerusakan miokard oleh kuman-kuman infeksius dapat melalui tiga mekanisme dasar yaitu  invasi langsung ke miokard,  proses immunologis terhadap miokard,mengeluarkan toksin yang merusak miokardium.

Komplikasi yang terjadi bila terkena Miokarditis yaitu  kardiomiopat,payah jantung kongresif,  efusi pericardial, AV block tota,trobi kardiak, gagal jantung.

 

B.Saran

Mahasiswa Keperawatan harus lebih memahami mengenai pengertian Miocarditis secara umum, tanda dan gejala, patofisiologi secara umum, manifestasi klinis, etiologi, klasifikasi, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan pada askep Miocariditis, sehingga mahasiswa juga dapat memperbanyak ilmu dengan mengunjungi seminar dan membaca dari berbagai sumber.

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KRISIS TYROID

Asuhan Keperawatan Krisis Tiroid

  1. A.    Latar Belakang

Krisis tiroid merupakan komplikasi hypertiroidisme yang jarang terjadi tetapi berpotensi fatal. Krisis tiroid harus dikenali dan ditangani berdasarkan manifestasi klinis karena konfirmasi laboratoris sering kali tidak dapat dilakukan dalam rentang waktu yang cukup cepat. Pasien biasanya memperlihatkan keadaan hypermetabolik  yang ditandai oleh demam tinggi, tachycardi, mual, muntah, agitasi, dan psikosis. Pada fase lanjut, pasien dapat jatuh dalam keadaan stupor atau komatus yang disertai dengan hypotensi.

 

Krisis tiroid  adalah penyakit yang jarang terjadi, yaitu hanya terjadi sekitar 1-2% pasien hypertiroidisme. Sedangkan insidensi keseluruhan hipertiroidisme sendiri hanya berkisar antara 0,05-1,3% dimana kebanyakannya bersifat subklinis. Namun, krisis tiroid yang tidak dikenali dan tidak ditangani dapat berakibat sangat fatal. Angka kematian orang dewasa pada krisis tiroid mencapai 10-20%. Bahkan beberapa laporan penelitian menyebutkan hingga setinggi 75% dari populasi pasien yang dirawat inap.Dengan tirotoksikosis yang terkendali dan penanganan dini krisis tiroid, angka kematian dapat diturunkan hingga kurang dari 20%.

 

Karena penyakit Graves merupakan penyebab hipertiroidisme terbanyak dan merupakan penyakit autoimun yang juga mempengaruhi sistem organ lain, melakukan anamnesis yang tepat sangat penting untuk menegakkan diagnosis. Hal ini penting karena diagnosis krisis tiroid didasarkan pada gambaran klinis bukan pada gambaran laboratoris. Hal lain yang penting diketahui adalah bahwa krisis tiroid merupakan krisis fulminan yang memerlukan perawatan intensif dan pengawasan terus-menerus. Dengan diagnosis yang dini dan penanganan yang adekuat, prognosis biasanya akan baik. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang tepat tentang krisis tiroid, terutama mengenai diagnosis dan penatalaksaannya.

 

  1. B.     Definisi

Krisis tiroid adalah kondisi hipermetabolik yang mengancam jiwa dan ditandai oleh demam tinggi dan disfungsi sistem kardiovaskular, sistem saraf, dan sistem saluran cerna.Awalnya, timbul hipertiroidisme yang merupakan kumpulan gejala akibat peningkatan kadar hormon tiroid yang beredar dengan atau tanpa kelainan fungsi kelenjar tiroid. Ketika jumlahnya menjadi sangat berlebihan, terjadi kumpulan gejala yang lebih berat, yaitu tirotoksikosis.

 

Krisis tiroid merupakan keadaan dimana terjadi dekompensasi tubuh terhadap tirotoksikosis tersebut.Tipikalnya terjadi pada pasien dengan tirotoksikosis yang tidak terobati atau tidak tuntas terobati yang dicetuskan oleh tindakan , infeksi, atau trauma.

 

Krisis tiroid/thyrotoxic crisis/thyroid storm adalah kedaruratan medis yang disebabkan oleh eksaserbasi akut dari gejala-gejala hipertiroid. Hal ini dapat berakibat fatal dan mematikan. Namun jarang terjadi apabila deteksi dini dilaksanakan dan pengobatan diberikan secepatnya (Hannafi,2011).

 

Krisis tiroid adalah suatu keadaan dimana gejala-gejala dari tirotoksikosis dengan sekonyong-konyong menjadi hebat dan disertai oleh hyperpireksia, takikardia dan kadang-kadang vomitus yang terus menerus.

 

  1. C.    Etiologi

Etiologi krisis tiroid sampai saat ini belum banyak diketahui. Namun ada tiga mekanisme fisiologis yang diketahui dapat mengakibatkan krisis tiroid, yaitu :

  1. Pelepasan seketika hormone tiroid dalam jumlah yang besar.

Pelepasan tiba-tiba hormon tiroid diduga dapat menyebabkan manifestasi hipermetabolik yang terjadi selama krisis tiroid, namun analisis laboratorium T3 & T4 mungkin tidak nyata dalam fenomena ini.

  1. Hiperaktivitas adrenegik.

Telah banyak diketahui bahwa hormon tiroid dan katekolamin saling mempengaruhi satu sama lain. Walaupun masih belum pasti apakah efek hipersekresi hormon tiroid atau peningkatan kadar katekolamin menyebabkan peningkatan sensitivitas dan fungsi organ efektor. Namun interaksi tiroid katekolamin dapat mengakibatkan peningkatan kecepatan reaksi kimia, meningkatkan konsumsi nutrien dan oksigen, meningkatkan produksi panas, perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit, dan status katabolik.

3.  Lipolisis dan pembentukan asam lemak yang berlebihan.

Lipolisis berlebihan, peningkatan jumlah asam lemak mengoksidasi dan menghasilkan energi panas yang berlebih yang sulit untuk dihilangkan melalui jalan vasodilatasi. Energi ini bukan berbentuk adenosin trifosfat pada tingkat molekuler, dan juga tidak dapat digunakan oleh sel.

 

Walaupun etiologinya belum jelas, namun terdapat beberapa faktor yang disinyalir memicu krisis tiroid, diantaranya : infeksi, trauma, pembedahan non tiroid, tiroidectomi, reaksi insulin, kehamilan, pemberhentian terapi anti tiroid mendadak, hipertiroid yang tidak terdiagnosa.

 

Etiologi krisis tiroid antara lain penyakit Graves, goiter multinodular toksik. Etiologi yang paling banyak menyebabkan krisis tiroid adalah penyakit Graves.Meskipun tidak biasa terjadi, krisis tiroid juga dapat merupakan komplikasi dari operasi tiroid. Kondisi ini diakibatkan oleh manipulasi kelenjar tiroid selama operasi pada pasien hipertiroidisme. Krisis tiroid dapat terjadi sebelum, selama, atau sesudah operasi. Operasi umumnya hanya direkomendasikan ketika pasien mengalami penyakit Graves dan strategi terapi lain telah gagal atau ketika dicurigai adanya kanker tiroid. Krisis tiroid berpotensi pada kasus-kasus seperti ini dapat menyebabkan kematian.

 

  1. D.    Patofisiologi

Patogenesis krisis tiroid belum sepenuhnya diketahui. Yang jelas bahwa kadar hormon tiroid di sirkulasi lebih tinggi daripada yang terlihat pada tirotoksikosis tanpa komplikasi, yang memperburuk keadaan tirotoksik. Tampaknya kecepatan peningkatan hormon tiroid di sirkulasi lebih penting daripada kadar absolut. Perubahan yang mendadak dan kadar hormon tiroid akan diikuti perubahan kadar protein pengikat. Hal ini terlihat pada pasca bedah atau penyakit nontiroid sistemik. Pada penyakit nontiroid sistemik juga ditemukan produksi penghambat ikatan hormon bebas akan meningkat. Kemungkinan lain adalah pelepasan hormon tiroid yang cepat ke dalam aliran darah, seperti halnya setelah pemberian yodium radioaktif, pembedahan tiroid, atau dosis berlebih hormon tiroid. Meningkatnya hormon bebas menyebabkan peningkatan ambilan selular hormon tiroid. Di pihak lain, kemungkinan juga terjadi intoleransi jaringan terhadap T3 dan T4 sehingga berkembang menjadi krisis tiroid. Aktivasi sistem saraf adrenergik tampaknya berperan juga, mengingat pemberian penghambat adrenergik memberikan respons yang dramatik pada krisis tiroid.

 

Faktor pencetus krisis tiroid yang sering ditemukan adalah: infeksi, pembedahan (tiroid atau nontiroid), terapi radioaktif, pewarna kontras yang mengandung yodium, penghentian obat antitiroid, amiodaron, minum hormon tiroid, ketoasidosis diabetik, gagal jantung kongestif, hipoglikemia, toksemia gravidarum, partus, stres emosi berat, emboli paru, cerebral vascular accident, infark usus, trauma, ekstraksi gigi, palpasi kelenjar tiroid yang berlebihan.

 

  1. E.     Manifestasi Klinis

Penderita umumnya menunjukkan semua gejala tirotoksikosis tetapi biasanya jauh lebih berat.

  1. Demam  > 370 C
  2. Takikardi > 130 x/menit
  3. Gangguan sistem gastrointestinal seperti diare berat
  4. Gangguan sistem neurologik seperti keringat yang berlebihan sampai dehidrasi,gangguan kesadaran sampai koma

 

  1. F.     Penatalakasanaan
  2. Menghambat Sintesis Hormon Tiroid
  1. Koreksi Hipertiroidisme

Obat yang dipilih adalah metimasol. Metimasol diberikan dengan dosis 20 mg tiap 4 jam (dosis total 120 mg/hari), bisa diberikan dengan atau tanpa dosis awal 60-100 mg

  1. Menghambat Sekresi Hormon Yang telah Terbentuk

Obat pilihan adalah larutan kalium yodida pekat (SSKI) dengan dosis 5 tetes setiap 6 jam atau larutan Lugol 30 tetes perhari dengan dosis terbagi 4.

  1. Menghambat Konversi T4 menjadi T3 di perifer, termasuk: PTU, Ipodate atau Ioponoat, penyekat (propanolol), kortikosteroid.
  1. Menurunkan Kadar Hormon Secara Langsung.

Dengan plasmaferesis, tukar plasma, dialisis peritoneal, transfusi tukar, dan charcoal plasma perfusion. Hal ini dilakukan bila dengan pengobatan konvensional tidak berhasil.

  1. Terapi Definitif.

Yodium radioaktif dan pembedahan (tiroidektomi subtotal atau total).

 

  1. Menormalkan Dekompensasi Hemeostasis

Terapi Suportif

1)        Dehidrasi dan keseimbangan elektrolit segera diobati dengan cairan intravena

2)        Glukosa untuk kalori dan cadangan glikogen

3)        Multivitamin, terutama vitamin B

4)        Obat aritmia, gagal jantung kongestif

5)        Lakukan pantauan invasif bila diperlukan – Suplemen Oksigen

6)        Obati hipertermia (asetaminofen, kompres dingin).

7)        Glukokortikoid (hidrokortison 100 mg setiap 8 jam atau deksametason 2 mg setiap 6 jam)

8)        Sedasi jika perlu

9)        Obat Antiadrenergik

Yang tergolong obat ini adalah: penyekat B, reserpin, dan guanetidin. Reserpin dan guanetidin kini praktis tidak dipakai lagi, diganti dengan penyekat B. Penyekat B yang paling banyak dipakai adalah propanolol. Dosis propanolol adalah 20-40 mg po atau 1-5 mg iv setiap 6 jam, bila diperlukan dapat dinaikkan sampai 240-480 mg/ hari/po. Pada penderita dengan kontraindikasi terhadap penyekat B, dapat diberikan guanetidin dengan dosis 1-2 mg/kg/hari dosis terbagi atau reserpin 2.5-5 mg setiap 4-6 jam.

  1. Terapi Untuk Faktor Pencetus

Obati secara agresif faktor pencetus yang diketahui. Terutama mencari fokus infeksi, misalnya dilakukan kultur darah, urine dan sputum, juga foto dada.Walaupun telah dilakukan pengenalan dan pengobatan dini hipertiroidisme, krisis tiroid masih merupakan kegawatan medik yang dapat mengancam jiwa. Pengenalan segera dan pengobatan agresif dengan pendekatan menyeluruh akan membantu memperbaiki dekompensasi hemeostasis yang merupakan masalah besar pada krisis tiroid. Diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami kerja hormon tiroid pada tingkat sel, yang mungkin menambah modalitas pengobatan yang lebih efektif di masa mendatang.

 

  1. Komplikasi

Komplikasi dapat ditimbulkan dari tindakan bedah, yaitu antara lain hipoparatiroidisme, kerusakan nervus laringeus rekurens, hipotiroidisme pada tiroidektomi subtotal atau terapi RAI, gangguan visual atau diplopia akibat oftalmopati berat, miksedema pretibial yang terlokalisir, gagal jantung dengan curah jantung yang tinggi, pengurangan massa otot dan kelemahan otot proksimal. Hipoglikemia dan asidosis laktat adalah komplikasi krisis tiroid yang jarang terjadi. Sebuah kasus seorang wanita Jepang berusia 50 tahun yang mengalami henti jantung satu jam setelah masuk rumah sakit dilakukan pemeriksaan sampel darah sebelumnya. Hal yang mengejutkan adalah kadar plasma glukosa mencapai 14 mg/dL dan kadar asam laktat meningkat hingga 6,238 mM. Dengan demikian, jika krisis tiroid yang atipik menunjukkan keadaan normotermi hipoglikemik dan asidosis laktat, perlu dipertimbangkan untuk menegakkan diagnosis krisis tiroid lebih dini karena kondisi ini memerlukan penanganan kegawatdaruratan. Penting pula untuk menerapkan prinsip-prinsip standar dalam penanganan kasus krisis tiroid yang atipik.

 

  1. H.    Prognosis

Krisis tiroid dapat berakibat fatal jika tidak ditangani. Angka kematian keseluruhan akibat krisis tiroid diperkirakan berkisar antara 10-20% tetapi terdapat laporan penelitian yang menyebutkan hingga 75%, tergantung faktor pencetus atau penyakit yang mendasari terjadinya krisis tiroid. Dengan diagnosis yang dini dan penanganan yang adekuat, prognosis biasanya akan baik.

 

  1. Diagnosa Keperawatan
  1. Pola nafas tidakefektif berhubungan dengan hiperventilasi
  2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan Hipermetabolisme.
  3. Diare berhubungan dengan  meningkatnya peristaltik usus
  4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan akibat hipermetabolisme
  5. Hipertermi berhubungan dengan hipermetabolisme

 

  1. Intervensi Keperawatan
  1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi

Tujuan : pola napas kembali efektif dalam waktu 2x 24 jam

Kriteria hasil : RR normal 16-20x/ menit

Tidak ada retraksi otot bantu pernapasan

Napas pendek tidak ada

Intervensi

Rasional

Mandiri

Posisikan pasien untuk semi

Fowler

Kolaborasi

Penggunaan alat bantu pernapasan seperti nasal kanul

HE

Anjurkan klien untuk bed rest

Evaluasi

Pantau pola napas pasien

 

Memaksimalkan pernapasan

 

 

Membantu pernapasan klien untuk memenuhi kebutuhan oksigen

 

Meminimalkan kebutuhan oksigen

 

Mengetahui keefektifan tindakan yang telah diberikan

 

  1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan hipermetabolisme.

Tujuan: menunjukan curah jantung yang optimal

Kriteria Hasil:  HR normal 60-100x/mennit

Menunjukkan perbaikan perfusi jaringan dikitunjukkan dengan

CRT  < 3 detik. Tekanan darah dalam batas normal 120/80 mmHg

Intervensi

Rasional

Kolaborasi

  1. Berikan cairan melalui IV sesuai indikasi
  2. Berikan obat sesuai indikasi (digoksin, propanol)
  3. Berikan oksigen sesuai indikasi
  1. Lakukan pemantauan terhadap EKG secara teratur

 

Mandiri

  1. Pantau tekanan darah secara teratur
  2. Auskultasi bunyi jantung, perhatikan adanya bunyi jantung tambahan, adanya irama gallop dan murmur sistolik

 

  1. Observasi tanda dan gejala haus yang hebat, mukosa membran kering, nadi lemah, pengisian kapiler lambat, penururnan produksi urine

 

HE

  1. Sarankan klien untuk tirah baring dan batasi aktivitas yang tidak perlu

 

 

  1. Untuk memperbaiki volume sirkulasi
  2. Pemberian propanolol menghambat konfersi T4 menjadi T3 di perifer.
  3. Mendukung peningkatan kebutuhan metabolisme
  4. Dapat menunjukan ketidakseimbangan elektrolit atau iskemi

 

 

  1. Mengetahui kerja jantung

 

  1. S1 dan murmur yang menonjol berhubungan dengan curah jantung meningkat pada keadaan hipermetabolik. Adanya S3 sebagai tanda kemungkinan adanya gagal jantung
  2. Dehidrasi yang cepat dapat terjadi yang akan menurunkan volume sirkulasi dan akan menurunkan curah jantung

 

 

 

 

  1. Aktivitas akan meningkatkan kebutuhan metabolik/ sirkulasi yang berpotensi menimbulkan gagal jantung

 

3. Diare berhubungan dengan  meningkatnya peristaltik usus

Tujuan : diare dapat dikendalikan / dihilangkan dalam waktu 3x 24 jam

Kriteria hasil : Frekuensi defekasi normal 1-2 x sehari

Konsentrasi defekasi normal (tidak terlalu keras dan tidak cair)

Mempertahankan cairan dan elektrolit (tidak ada tanda mukosa kering, turgor kulit baik)

 

 

 

Intervensi

Rasional

Kolaborasi

  1. Berikan obat sesuai indikasi : Antikolinergik.

 

 

 

Mandiri

  1. Tingkatkan tirah baring

 

  1. Berikan pemasukan cairan intravena sesuai derajat dehidrasi.

 

  1. Buang feses secara cepat. Berikan pengharum  ruangan
  2. Pantau tanda tanda dehidrasi.
  3. Pantau frekuensi dan konsentrasi feses setelah diberikan intervensi

 

  1. Menurunkan motilitas/ peristaltik Gidan menurunkan sekresi digestif untuk menghilangkan kram dan diare

 

 

  1. Istirahat akan menurunkan motilitas usus
  2. Mengistirahatkan kolon dan menghindari atau menurunkan rangsangan makanan.
  3. Menghilangkan bau tak sedap untuk mengurangi rasa malu pasien
  4. Sebagai indikasi timbulnya dehidrasi
  5. Mengetahui keefektifan intervensi yang telah diberikan

 

  1. Hipertermi berhubungan dengan hipermetabolisme

Tujuan : suhu akan kembali normal dalam waktu 1x 24 jam

Kriteria hasil : suhu normal 36,50 – 37,5 0C

Nadi dan pernapasan dalam rentan normal

(N= 60-100x/menit, RR=   16-20x/menit)

Perubahan warna kulit tidak ada

Keletihan tidak tampak

 

Intervensi

Rasional

Mandiri

  1. Berikan kompres air biasa pada aksila, kening, leher dan lipatan paha.

 

 

 

  1. Lepaskan pakaian yang berlebihan dan tutupi pasien dengan pakaian yang tipis
  1. Berikan asupan cairan intravena.

 

 

Kolaborasi

  1. Berikan obat anti piretik sesuai kebutuhan

 

  1. Berikan selimut dingin

 

 

Evaluasi

  1. Pantau suhu minimal setiap 2 jam sekali, sesuai kebutuhan
  2. Pantau adanya aktivitas kejang
  1. Pantau hidrasi secara teratur (turgor kulit dan kelembapan membran mukosa)

 

  1. Dapat membantu mengurangi demam. Penggunaan alkohol akan menyebabkan kedinginan, peningkatan suhu secara aktual. Selain itu, alkohol dapat mengeringkan kulit.
  2. Mempermudah pengeluaran panas

 

 

  1. Untuk menyeimbangkan antara pemasukan cairan dengan pengeluarannya

 

 

  1. Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.
  2. Digunakan untuk mengurangi demam yang umumnya lebih besar dari 39,50-400C

 

  1. Mengetahui kemungkinan adanya kenaikan suhu secara mendadak
  2. Kenaikan suhu yang tinggi dapat menimbulkan kejang
  3. Hipertermi akan meningkatkan kebutuhan cairan dalam tubuh

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar pustaka

Schraga ED. Hyperthyroidism , thyroid storm , and Graves disease. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/324556-print.

Misra M, Singhal A, Campbell D. Thyroid storm. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/394932-print.

Yeung SJ, Habra M, Chiu C. Graves disease. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/234233-print.

Kuwajerwala NK, Goswami G, Abbarah T, Kanthimathinathan V, Chaturvedi P. Thyroid , thyrotoxic storm following thyroidectomy. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/213213-print.

Thyroid crisis. Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/Mesh/database. php?key=thyroid_crisis.

Kanbay M, Sengul A, Gilvener N. Trauma induced thyroid storm complicated by multiple organ failure. Chin Med J. 2005;118(11):963-5.

 Duggal J, Singh S, Kuchinic P, Butler P, Arora R. Utility of esmolol in thyroid crisis. Can J Clin Pharmacol. 2006;13(3):e292-5.

Sharma PK, Barr L, Rubin A. Complications of thyroid surgery. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/946738-print.

Yamaji Y, Hayashi M, Suzuki Y, Noya K, Yamamoto O. Thyroid crisis associated with severe hypocalcemia. Jpn J Med. 1991;30(2):179-81.

Kahara T, Yoshizawa M, Nakaya I, et al. Thyroid crisis following interstitial nephritis. Intern Med. 2008;47(13):1237-40.

Prof.Dr.M.W.Haznam, Endokrinologi, 1991

Jiang Y, Hutchinson KA, Bartelloni P, Manthous A. Thyroid storm presenting as multiple organ dysfunction syndrome. Chest. 2000;118:877-9.

Emdin M, Pratali L, Iervasi G. Abolished vagal tone associated with thyrotoxicosis triggers prinzmetal variant angina and paroxysmal atrial fibrillation. Ann Intern Med. 2000;132(8):679.

Sheng W, Hung C, Chen Y, et al. Antithyroid-drug-induced agranulocytosis complicated by life-threatening infections. Q J Med. 1999;92:455-61.

Izumi K, Kondo S, Okada T. A case of atypical thyroid storm with hypoglycemia and lactic acidosis. Endocr J. 2009;56(6):747-52.

Harrison’s, Principles Of Internal Medicines 12th Edition, 1991

Tarunaku = Pangeranku ^_^

Image

Tinggal hitungan hari…… kehidupan barunya dilingkungan baru akan dimulai…

ingat janji kita….. “kamu pergi bukan untuk selamanya, dan nanti kamu pasti akan kembali, bukan untuk aku tapi untuk kita…..”

pasti akan terasa sepi…. yang biasanya bisa melihat kamu berdiri di depanku pada saat itu aku mau melihat kamu…sekarang cuma bisa mandangin kamu lewat foto….. yang biasanya dengar suara suara kamu langsung dan tawa kamu sambil cubit hidung kamu, sekarang cuma bisa dengar suaranya saja,,,,,

Tuhan…. aku mencintainya meskipun dia jauh, meskipun hanya bisa mendengar suaranya setiap telepon… meskipun hanya bisa mmelihat wajahnya hanya dari foto… tetapi aku bahagia bisa ersama dengannya sampai saat ini dan aku berharap aku bisa bersama dia untuk selamanya…..

with love Sofian Aryef….

KONSEP KEPERAWATAN KELUARGA

KONSEP KEPERAWATAN KELUARGA

 

  1. A.    Pengertian keluarga dan pengertian keperawatan keluarga

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah satu atap dan keadaan saling ketergantungan (Departemen Kesehatan, 1988).

Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan, ikatan emosional dan yang mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari keluarga (Marilynn M. Friedman, 1998).

Keluarga adalah dua orang atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan (Salvicion G Balion dan Aracelis Maglaya, 1989).

Dari ketiga pengertisn diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah dua orang atau lebih yang dipersatukan oleh ikatan perkawinan, ikatan darah yang tinggal dalam satu rumah dan saling berinteraksi satu sama lain dalam perannya masing-masing untuk menciptakan atau mempertahankan suatu budaya.

Keperawatan keluarga adalah suatu rangkaian kegiatan yang diberikan melalui praktik keperawatan dengan sasaran keluarga (Suprajitna, 2004).

 

 

  1. B.     Tipe atau jenis keluarga

Menurut Frieman (1998) tipe keluarga dari dua tipe yaitu keluarga tradisional dan keluarga non tradisional.

1)      Tipe keluarga tradisional terdiri dari :

a)      Nuclear family atau keluarga inti adalah suatu rumah tangga yang terdiri dari suami, istri dan anak kandung atau anak adopsi.

b)      Extended family atau keluarga besar adalah keluarga inti ditambah dengan keluarga lain yang mempunyai hubungan darah, misalnya kakek, nenek, bibi dan paman.

c)      Dyad family adalah keluarga yang terdiri dari suami dan istri yang tinggal dalam satu rumah tanpa anak.

d)     Single parent family adalah suatu keluarga yang terdiri dari satu orang tua dan anak (kandung atau angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian.

e)      Single adult adalah satu rumah tangga yang terdiri dari satu orang dewasa.

f)       Keluarga usia lanjut adalah keluarga yang terdiri dari suami dan istri yang sudah lanjut usia.

2)      Tipe keluarga non tradisional terdiri dari :

a)      Keluarga communy yang terdiri dari satu keluarga tanpa pertalian darah, hidup dalam satu rumah.

b)      Orang tua (ayah, ibbu) yang tidak ada ikatan perkawinan dan anak hidup bersama dalam satu rumah tangga.

c)      Homo seksual dan lesbian adalah dua individu sejenis yang hidup bersama dalam satu rumah dan berpefilaku layaknya suami istri.

 

  1. C.    Struktur keluarga

Menurut Friedcman (1998), struktur keluarga terdiri dari :

1)      Pola dan proses komunikasi dapat dikataan berfungsi apabila jujur, terbuka, melibatkan emosi, dapat menyelesaikan konflik keluarga serta adanya hierarki kekuatan. Pola komunikasi dalam keluarga dikatakan akan berhasil jika pengirim pesan (sender) yakin mengemukakan pesannya, isi pesan jelas dan berkualitas, dapat menerima dan memberi umpan balik, tidak bersifat asumsi, berkomunikasi sesuai. Sebaliknya, seseorang menerima pesan (receiver) dapat menerima pesan dengan baik jika dapt menjadi pendengan yang baik, memberi umpan balik dan dapat memvalidasi pesan yang diterima.

2)      Struktur peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai posisi sosial yang diberikan baik peran formal maupun informal.

3)      Struktur kekuatan adalah kemampuan individu untuk mengontrol dan mempengaruhi atau merubah perilaku orang lain yang terdiri dari legitimate power (hak), referen power (ditiru), expert power (keahlian), reward power (hadiah), coercive power (paksaan) dan affektif power.

4)      Nilai keluarga dan norma adalah sistem ide-ide, sikap dan keyakinan yang mengikat anggota keluarga dalam budaya tertentu sedangkan norma adalah pola perilaku yang diterima pada lingkungan sosial tertentu.

 

  1. D.    Peran keluarga

Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat dan kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan individu didasari dalam keluarga dan kelompok masyarakat. Berbagai peran yang terdapat dalam keluarga adalah sebagai berikut :

1)      Peran ayah : ayah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anaknya, berperan dari pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman sebagai kepala keluarga, anggota dari kelompok sosial serta dari anggota masyarakat dari lingkungannya.

2)      Peran ibu : ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. Ibu mempunyai peran mengurus rumah tangga , sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu ibu juga dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarga.

3)      Peran anak : anak-anak melaksanakan peran psikososial sesuai engan tingkat perkembangan fisik, mental, soaial dan spiritual.

 

  1. E.     Fungsi keluarga

Menurut Friedman (1998), terdapat lima fungsi keluarga, yaitu :

1)      Fungsi afektif (the Affective Function) adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain. Fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan individu dan psikososial anggota keluarga.

2)      Fungsi sosialisasi yaitu proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosialnya. Sosialisasi dimulai sejak lahir. Fungsi ini berguna untuk membina sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma tinkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan dan meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.

3)      Fungsi reproduksi (the reproduction function) adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.

4)      Fungsi ekonomi (the economic function) yaitu keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

5)      Fungsi perawatan atau pemeliharaan kesehatan (the health care function) adalah untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas yang tinggi. Fungsi ini dikembangkan menjadi tugas keluarga dibidang kesehatan.

Tetapi dengan berubahnya zaman, fungsi keluarga dikembangkan menjadi :

1)      Fungsi ekonomi, yaitu keluarga diharapkan menjadi keluarga yang produktif yang mampu menghasilkan nilai tambah ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya keluarga.

2)      Fungsi mendapatkan status sosial, yaitu keluarga yang dapat dilihat dan dikategorikan strata sosialnya oleh keluarga lain yang berbeda disekitarnya.

3)      Fungsi pendidikan, yaitu keluarga mempunyai peran dan tanggungjawab yang besar terhadap pendidikan anak-anaknya untuk menghadapi kehidupan dewasanya.

4)      Fungsi sosialisasi bagi anaknya, yaitu orang tua atau keluarga diharapkan mampu menciptakan kehidupan sosial yang mirip dengan luar rumah.

5)      Fungsi pemenuhan kesehatan, yaitu keluarga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar primer dalam rangka melindungi dan pencegahan terhadap penyakit yang mungkin dialami oleh keluarga.

6)      Fungsi reliugius, yaitu keluarga merupakan tempat belajar tentang agama dan mengamalkan ajaran agama.

7)      Fungsi rekreasi, yaitu keluarga merupakan tempat untuk melakukan kegiatan yang dapat mengurangi ketegangan akibat berada di luar rumah.

8)      Fungsi reproduksi, yaitu bukan hanya mengembangkan keturunan tetapi juga tempat untuk mengembangkan fungsi reproduksi secara menyeluruh, diantaranya seks yang sehat dan berkualitas serat pendidikan seks bagi anak-anak.

9)      Fungsi afektif, yaitu keluarga merupakan tempat yang utama untuk pemenuhan kebutuhan psikososial sebelum anggota keluarga berada di luar rumah.

Dari beberapa fungsi keluarga diatas, ada tiga fungsi pokok keluarga terhadap anggota keluarganya, antara lain asih, yaitu memberikan kasih sayang, perhatin dan rasa aman, kehangatan kepada anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka tumbun dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya. Sedangka asuh, yaitu menuju kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar kesehatannya selalu terpelihara sehingga diharapkan mereka menjadi anak-anak yang sehat baik fisik, mental, sosial dan spiritual. Dan asah, yaitu memenuhi kebutuhan pendidikan anak sehingga siap menadi manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya.

 

 

 

  1. F.     Tahap-tahap perkembangan keluarga dan tugas perkembangan keluarga

Menurut friedman (1998), tahap perkembangan keluarga berdasarkan siklus kehidupan keluarga terbagi atas 8 tahap :

1)      Keluarga baru (beginning family), yaitu perkawinan dari sepasang insan yang menandakan bermulanya keluarga baru. Keluarga pada tahap ini mempunyai tugas perkembangan, yaitu membina hubungan dan kepuasan bersama, menetapkan tujuan bersam, membina hubungan dengan keluarga lain, teman, kelompok sosial dan merencanakan anak atau KB.

2)      Keluarga sedang mengasuh anak (child bearing family), yaitu dimulai dengan kelahiran anak pertama hingga bayi berusia 30 bulan. Mempunyai tugas perkembangan seperti persiapan bayi, membagi peran dan tanggungjawab, adaptasi pola hubungan seksual, pengetahuan tentang kehamilan, persalinan dan menjadi orang tua.

3)      Keluarga dengan usia anak pra sekolah, yaitu kelurga dengan anak pertama yang berumur 30 bulan sampai dengan 6 tahun. Mempunyai tugas perkembangan, yaitu membagi waktu, pengaturan keuangan, merencanakan kelahiran yang berikutnya dan membagi tanggungjawab dengan anggota keluarga yang lain.

4)      Keluarga dengan anak usia sekolah, yaitu dengan anak pertama berusia 13 tahun. Adapun tugas perkembangan keluarga ini, yaitu menyediakan aktivitas untuk anak, pengaturan keuangan, kerjasama dalkam memnyelesaikan masalah, memperhatikan kepuasan anggota keluarga dan sistem komunikasi keluarga.

5)      Keluarga dengan anak remaja, yaitu dengan usia anak pertam 13 tahun sampai dengan 20 tahun. Tugas pekembangan keluarga ini adalah menyediakan fasilitas kebutuhan keluarga yang berbeda, menyertakan keluarga dalam bertanggungjawab dan mempertahankan filosofi hidup.

6)      Keluarga denagn anak dewasa, yaitu keluarga dengan anak pertama, meninggalkan rumah dengan tugas perkembangan keluarga, yaitu menata kembali sumber dan fasilitas, penataan yanggungjawab antar anak, mempertahankan komunikasi terbuka, melepaskan anak dan mendapatkan menantu.

7)      Keluarga usia pertengahan, yaitu dimulai ketika anak terakhir meninggalakan rumah dan berakhir pada saat pensiun. Adapaun tugas perkembangan, yaitu mempertahankan suasana yang menyenangkan, bertanggungjawab pada semua tugas rumah tangga, membina keakraban dengan pasangan, mempertahankan kontak dengan anak dan berpartisipasi dalam aktivitas sosial.

8)      Keluarga usia lanjut, tahap terakhir siklus kehidupan keluarga dimulai dari salah satu pasangan memasuki masa pensiun, terus berlangsung hingga salah satu pasangan meninggal dunia. Adapun tugas perkembangan keluarga ini, yaitu menghadapi pensiun, saling rawat, memberi arti hidup, mempertahankan kontak dengan anak, cucu dan masyarakat.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Friedman, M.M. (1998). Family Nursing : Research, Theory and Practice. (4th Ed.). Norwalk CT : Alpleton & Lange.

Raflessbencoolen.blogspot. Keperawatan Keluarga. (2011)

http://raflessbencoolen.blogspot.com/2011/03/08/keperawatan-keluarga.html. diperoleh pada tanggal 16 Februari 2013 pukul 19.00 WIB.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEPERAWATAN KOMUNITAS 3

KONSEP KELUARGA

 

 

 

 

DISUSUN OLEH

WIDANTI VIRGIAN (201233010)

 

 

 

 

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL

2012/2013

 

Kisah Ku Dengan Seorang Taruna……

Awal perkenalan di mulai pada bulan Januari 2012…

Berawal dari ucapan ulang tahun di jaringan sosial, pada saat itu SA berulang tahun pada tanggal 05 Januari 2012 yang ke-22. sebelumnya saya sama sekali tidak mengenal siapa dia, pada saat itu yang tertera berulang tahun saya kirimi sebuah pesan ke kontak akun tersebut, tanpa terkecuali SA.

3 hari kemudian saya mendapatkan sebuah balasan komentar di dinding yang saya kirimi ke SA. Dia mengucapkan terimakasih dan seperti kebanyakan orang pasti meminta contact person, dia minta kontak bbm saya… tidak seperti biasanya saya selalu mikir-mikir untuk memberikan contact person saya, langsung saya kirim lewat inbox…. padahal saya belum tau seperti apa orangnya, kuliah atau kerja, orang mana, dll. setelah dia invite kontak bbm saya, lalu saya accept….. :( awalnya saya agak kecewa, karena saya melihat Display Picture dia seorang dengan seragam (Taruna) >> (sebelumnya saya juga pernah disakiti oleh seorang taruna juga). tapi saya positive thinking terhadap dia, setiap orang berbeda-beda, doa saya waktu itu semoga dia tidak sama dengan Taruna yang pernah saya kenal.

Komunikasi intens antara saya dan dia terjalin baik. kita memang belum pernah bertemu sebelumnya, tapi saya merasakan perhatian lebihnya pada saya…. 1 bulan kita menjalin komunikasi tanpa tau seperti apa dia, dan dia juga tidak tahu seperti apa saya. sampai pada akhirnya akhir Januari kita memutuskan untuk bertemu, mencari waktu yang tepat, mencocokan jadwal IBL dia dengan jadwal dinas saya…. akhirnya kita memilih hari sabtu di akhir anuari untuk bertemu. sosok tinggi, badan tegap datang menghampiri saya yang sedang duduk makan sambil menunggu sosok tersebut.

awal pertemuan dimulai, awal makan bareng, awal nonton bareng, awal diantar pulang kerumah juga… pada malam pertama bertemu itu, nggak karuan rasanya… senang, bingung, malu, sepertinya saya suka sama dia. tapi apa dia merasakan hal yang sama seperti saya…. ada ketakutan dan keraguan, akhirna saya taruhan dengan diri saya sendiri waktu itu, jika dia memang menaru feel sama saya pasti nanti setelah dia sampai dirumah pasti dia akan sms atau telp dan bilang kesan-kesan setelah bertemu saya, tapi kalau dia menghindar dia nggak ada feel apa-apa sama saya. kalau kata anak sekarang “Galau” ya itu yang saya rasakan pada saat itu.

ternyata apa yang saya rasa dia juga rasakan, malam itu dia langsung sms saya, hahahahha :D…. Akhirnya untuk weekend selanjutnya kami merencanakan untuk bertemu kembali. pada pertemuan ke-2 kami bertemu…. pada tanggal 04 Februari 2012, tepat pada tanggal itu dia menyatakan cinta pada saya pukul 23.35 wib, di dalam mobil didepan rumah temannya.

baru menjadi sepasang kekasih….. lucu sebetulnya jika diingat-ingat kembali. setiap weekend tiba saya selalu memutar-mutar jadwal dinas saya untuk bisa bertemu dengan SA yang hanya punya waktu sabtu dan minggu. maklum dia tinggal diasrama, jadi masih ada batasan-batasan untuk berada ditempat umum. hari demi hari terlewati dengan rasa bahagia. hubungan kami terhalang oleh tembik asrama, salah satu cara untuk menjaga hubungan hanya dengan komunikasi dan saling percaya. tidak terasa 2 Bulan sudah terlewati. di bulan ke tiga…. hubungan kami mendapat cobaan, dan sampai akhirnya kita tidak bersama lagi….

seiring berjalan waktu, setelah beberapa lama tidak komunikasi dengan SA, tiba-tiba ada sebuah pesan masuk ke dalam ponsel saya, ternyata itu dari SA. Waktu itu tepat bulan Juli bulan ramadhan, kami bertmu kembali…. senang rasanya bisa bertemu lagi dengan dia. tepat pada tanggal 04 Agustus 2012 kami menjalin kembali hubungan kami yang sempat terpisah.

orang hidup tak akan pernah luput dengan masalh, begitu juga halnya dengan hubungan kami, tapi setiap masalh yang datang kita selalu coba untuk bisa menghadapi dan menyelesaikannya.

hari demi hari, waktu demi waktu berjalan, sampai pada akhirnya SA berhasil menyelesaikan pendidikannya.

sampai saat ini saya menulis blog ini…SA masih selalu ada disamping saya..:) Ada sedikit kekhawatiran yang saya rasakan, hubungan jarak jauh yang akan kami berdua jalani…. saya dengan pekerjaan dan studi saya disini dan dia denagn pekerjaannya di daerah tempat penempatannya… tapi, insya Allah… apapun yang terjadi jika kami memang jodoh pasti tidak akan kemana. sebagai seorang manusia hanya bisa merencanakan, Allah SWT lah yang menentukan semuanya…. semoga kami selalu diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menjalaninya……………… amiiin……….ImageImage

PENTINGNYA KESEHATAN MULUT DAN GIGI PADA SAAT HAMIL

Kesehatan mulut dan gigi ibu hamil sebaiknya mendapat perhatian yang serius, bahkan sejak sebelum menikah. Hal ini mengingat dampak yang ditimbulkan dapat berpengaruh terhadap kehamilan. Salah satu kepedulian tentang kesehatan gigi ibu hamil adalah dengan menyebarluaskan informasi bagaimana merawat gigi dengan benar sejak sebelum hamil dan saat kehamilan.

Kenapa jika saya sedang hamil, gigi dan gusi seringkali terasa sakit. Gusi mudah berdarah di beberapa tempat dan bentuknya berbenjol-benjol?

Demikian keluhan ibu hamil ketika mengunjungi dokter gigi. Kehadiran anak bagi setiap keluarga adalah sesuatu yang sangat istimewa dan dinanti-nantikan kehadirannya. Kehamilan adalah masa-masa yang penuh perhatian, baik untuk ibu hamil juga si jabang bayi.

Pada saat ini ibu hamil betul-betul harus menjaga kondisi kesehatan dengan baik, mengonsumsi berbagai jenis makanan dan vitamin demi kesehatan ibu dan bayinya. Kehamilan adalah suatu proses fisiologis yang dapat menimbulkan perubahan-perubahan pada tubuh wanita, baik fisik maupun psikis.

Keadaan ini disebabkan adanya perubahan hormon estrogen dan progesteron. Saat kehamilan disertai berbagai keluhan lain seperti ngidam, mual, muntah termasuk keluhan sakit gigi dan mulut. Kondisi gigi dan mulut ibu hamil seringkali ditandai dengan adanya pembesaran gusi yang mudah berdarah karena jaringan gusi merespons secara berlebihan terhadap iritasi lokal.

Bentuk iritasi lokal ini berupa karang gigi, gigi berlubang, susunan gigi tidak rata atau adanya sisa akar gigi yang tidak dicabut. Hal ini sangat berbeda dengan keadaan ibu pada saat tidak hamil.

Pembesaran gusi ibu hamil biasa dimulai pada trisemester pertama sampai ketiga masa kehamilan. Keadaan ini disebabkan aktivitas hormonal yaitu hormon estrogen dan progesteron. Hormon progesteron pengaruhnya lebih besar terhadap proses inflamasi/peradangan. Pembesaran gusi akan mengalami penurunan pada kehamilan bulan ke-9 dan beberapa hari setelah melahirkan. Keadaannya akan kembali normal seperti sebelum hamil.

Pembesaran gusi ini dapat mengenai/menyerang pada semua tempat atau beberapa tempat (single/multiple) bentuk membulat, permukaan licin mengilat, berwarna merah menyala, konsistensi lunak, mudah berdarah bila kena sentuhan.

Pembesaran gusi ini di dunia kedokteran gigi disebut gingivitis gravidarum/pregnancy gravidarum/hyperplasia gravidarum sering muncul pada trisemester pertama kehamilan. Keadaan di atas tidaklah harus sama bagi setiap ibu hamil.

Faktor penyebab timbulnya gingivitis pada masa kehamilan dapat dibagi 2 bagian, yaitu penyebab primer dan sekunder.

1.   Penyebab primer.

Iritasi lokal seperti plak merupakan penyebab primer gingivitis masa kehamilan sama halnya seperti pada ibu yang tidak hamil, tetapi perubahan hormonal yang menyertai kehamilan dapat memperberat reaksi peradangan pada gusi oleh iritasi lokal.

Iritasi lokal tersebut adalah kalkulus/plak yang telah mengalami pengapuran, sisa-sisa makanan, tambalan kurang baik, gigi tiruan yang kurang baik.

Saat kehamilan terjadi perubahan dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut yang bisa disebabkan oleh timbulnya perasaan mual, muntah, perasaan takut ketika menggosok gigi karena timbul perdarahan gusi atau ibu terlalu lelah dengan kehamilannya sehingga ibu malas menggosok gigi. Keadaan ini dengan sendirinya akan menambah penumpukan plak sehingga memperburuk keadaan.

2.   Penyebab sekunder.

Kehamilan merupakan keadan fisiologis yang menyebabkan perubahan keseimbangan hormonal, terutama perubahan hormon estrogen dan progesteron. Peningkatan konsentrasi hormon estrogen dan progesteron pada masa kehamilan mempunyai efek bervariasi pada jaringan, di antaranya pelebaran pembuluh darah yang mengakibatkan bertambahnya aliran darah sehingga gusi menjadi lebih merah, bengkak dan mudah mengalami perdarahan.

Akan tetapi, jika kebersihan mulut terpelihara dengan baik selama kehamilan, perubahan mencolok pada jaringan gusi jarang terjadi. Keadaan klinis jaringan gusi selama kehamilan tidak berbeda jauh dengan jaringan gusi wanita yang tidak hamil, di antaranya :

  • Warna gusi, jaringan gusi yang mengalami peradangan berwarna merah terang sampai kebiruan, kadang-kadang berwarna merah tua.
  • Kontur gusi, reaksi peradangan lebih banyak terlihat di daerah sela-sela gigi dan pinggiran gusi terlihat membulat.
  • Konsistensi, daerah sela gigi dan pinggiran gusi terlihat bengkak, halus dan mengkilat. Bagian gusi yang membengkak akan melekuk bila ditekan, lunak, dan lentur.
  • Risiko perdarahan, warna merah tua menandakan bertambahnya aliran darah, keadaan ini akan meningkatkan risiko perdarahan gusi.
  • Luas peradangan, radang gusi pada masa kehamilan dapat terjadi secara lokal maupun menyeluruh. Proses peradangan dapat meluas sampai di bawah jaringan periodontal dan menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada struktur tersebut.

Tindakan penanggulangan/perawatan radang gusi pada ibu hamil di bagi dalam 4 tahap, yaitu :

1.   Tahap jaringan lunak, iritasi lokal merupakan penyebab timbulnya gingivitis. Oleh karena itu, tujuan dari penanggulangan gingivitis selama kehamilan adalah menghilangkan semua jenis iritasi lokal yang ada seperti plak, kalkulus, sisa makanan, perbaikan tambalan, dan perbaikan gigi tiruan yang kurng baik.

2.   Tahap fungsional, tahap ini melakukan perbaikan fungsi gigi dan mulut seperti pembuatan tambalan pada gigi yang berlubang, pembuatan gigi tiruan, dll.

3.   Tahap sistemik, tahap ini sangat diperhatikan sekali kesehatan ibu hamil secara menyeluruh, melakukan perawatan dan pencegahan gingivitis selama kehamilan. Keadaan ini penting diketahui karena sangat menentukan perawatan yang akan dilakukan.

4.   Tahap pemeliharaan, tahap ini dilakukan untuk mencegah kambuhnya penyakit periodontal setelah perawatan. Tindakan yang dilakukan adalah pemeliharaan kebersihan mulut di rumah dan pemeriksaan secara periodik kesehatan jaringan periodontal.

Sebagai tindakan pencegahan agar gingivitis selama masa kehamilan tidak terjadi, setiap ibu hamil harus memperhatikan kebersihan mulut di rumah atau pemeriksaan secara berkala oleh dokter gigi sehingga semua iritasi lokal selama kehamilan dapat terdeteksi lebih dini dan dapat dihilangkan secepat mungkin.